Sunday, December 13, 2020

BUDAYA GANJURAN LAMONGAN YANG IDENTIK DENGAN WANITA YANG MELAMAR LAKI-LAKI

BUDAYA GANJURAN LAMONGAN YANG IDENTIK DENGAN WANITA YANG MELAMAR LAKI-LAKI

Kebudayaan adalah sebuah tradisi atau kebiasaan yang diturunkan secara turun-temurun. Dan kebudayaan yang meliputi kebiasaan yang ada di Daerah sekitar ini karena disetiap daerah memiiki adat istiadat berbeda, satu aturan di suatu daerah bisa berbeda dengan aturan di daerah lainnya, Kekayaan dalam budaya pernikahan yang ada di Indonesia dari sejauh Aceh yang membentang hingga pulau Papua. Dari setiap suku yang ada di suatu wilayah yang tentunya memiliki tradisi pernikahan yang berbeda-beda beserta kearifan lokal yang mengikutinya 

Seperti halnya yang ada di kota Lamongan, budaya ini dianggap sudah menjadi tradisi disetiap daerah yang ada di Lamongan banyak kebudayaan umumnya sebelum menikah seorang lelaki akan datang ke rumah perempuan untuk melamart tapi di Lamongan, Jawa Timur justru kebalikannya, disini perempuanlah yang melamar calon suaminya dalam Istilah Ganjuran sudah tidak asing ditelinga masyarakat Lamongan dalam tradisi budaya ini ada budaya unik yang masih melekat dalam masyarakat dalam hal meminang, atau yang dikenal dengan istilah lamaran atau juga orang lamongan biasanya “Ganjuran” dalam pernikahan biasanya dimulai oleh pihak laki-laki. Akan tetapi, sangat berbeda dengan yang terjadi di Kabupaten Lamongan dimana proses lamaran dimulai oleh pihak perempuan yang meminta atau meminang calon suaminya. 



Lamongan adalah salah satu kabupaten di Propinsi Jawa Timur di pesisir utara Jawa yang beberapa kawasannya merupakan perbukitan kapur. Ini merupakan rangkaian dari perbukitan kapur utara. Di bagian tengah merupakan dataran rendah dan rawa. Sedang di bagian selatan adalah perbukitan Kendeng. Bengawan Solo mengalir di bagian utara. Kabupaten dengan motto Memayu Raharjaning Praja (berusaha dengan sungguh-sungguh dan sebaik-baiknya dengan bekerja keras dan ulet untuk kesejahteraan dan keselamatan rakyat, masyarakat, dan negara) ini berbatasan di sebelah timur dengan Kabupaten Gresik, sebelah Barat dengan Kabupaten Tuban dan Bojonegoro, sebelah selatan dengan Kabupaten Mojokerto dan Jombang, serta berbatasan langsung dengan Laut Jawa di sebelah utara.

Dalam hal ini adat dalam budaya yang masih terlestarikan dari berbagai desa yang ada di Desa Lamongan ini dalam sejarahnya tradisi perempuan melamar laki-laki yang konon sudah terjadi secara turun temurun sejak pada masa pemerintahan Raden Panji Puspokusumo, penguasa Lamongan terdahulu pada 1640 - 1665. Panji Puspokusumo yang tercatat sebagai keturunan ke-14 Prabu Hayam Wuruk yaitu seorang penguasa Majapahit. Dan dalam kisahnya, Panji Puspokusumo memiliki dua anak kembar bernama Raden Panji Laras dan Raden Panji Liris. Kedua pangeran rupawan tersebut yang memiliki hobi menyabung ayam. Suatu hari, keduanya mengikuti sabung ayam di daerah Wirosobo yang sekarang dikenal dengan Kertosono kota Nganjuk. Ketampanan Panji Laras dan Panji Liris ternyata membius dua putri kembar raja Wirosobo, yakni Dewi Andansari dan Dewi Andanwangi. Kedua putri cantik itupun langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Sehingga kendati mereka dianggap melanggar norma saat itu, Raja Wirosobo akhirnya melamar kedua putra kembar penguasa Lamongan itu. Desakan dua putri kesayangan membuatnya berani melanggar norma. Sejak saat itulah tradisi perempuan melamar laki-laki mulai diberlakukan. Budaya itu kemudian dilestarikan sebagai budaya leluhur yang masih terjaga hingga kini. Meskipun dari beberapa warga yang tidak sepenuhnya tau dengan asal-usul adanya budaya tradisi unik yang ada di Kota Lamongan dan untuk saat ini masih ada yang melestarikan budayah tersebut. Tetapi seiring dengan perkembangan zaman budaya ganjuran sedikit luntur dengan seiringnya perkembangan dari dalam budaya luar. Yang mana perempuan pada zaman ini akan memintak laki-laki dahulu yang melamar untuk itu budaya yang unik Lamongan masih ada yang melestarikan ada juga yang sudah tidak lagi menggunakan budaya Ganjuran tersebut. Dalam hal ini pelestarian budaya sangat dianjurkan karena dengan adanya budaya akan mampu menyatukan nilai-nilai satu kesatuan dalam masyarakat. 

Dalam hal ini banyak sekali yang salah satunya ialah keluarga dari pihak perempuan menginginkan membawa laki-laki yang dipinang tersebut untuk mengikuti keluarga pihak perempuan. Setelah pernikahan dilangsungkan, pihak laki-laki juga harus mengikuti pihak perempuan dalam menentukan tempat tinggal yang akan mereka tempati. Meskipun di berbagai tempat banyak perempuan yang harus menunggu dilamar terlebih dahulu untuk mendapat jodoh bagi perempuan berumur yang belum menikah, tentu saja hal ini tidak berlaku bagi perempuan di Lamongan karena dalam konteks perjodohan, baik laki-laki maupun perempuan sah-sah saja berinisiatif dalam mencari jodoh. Ini juga terjadi  dalam keluarga saya yang masih melesatarikan budaya ganjuran tersebut yang mana dari keluarga saya mempelai perempuan yang meminang terlebih dahulu dengan membawa berbagai hantaran yang sudah menjadi ciri khas dari acara lamaran di daerah Lamongan seperti Gemblong, Lemet, berbagai macam buah-buahan dan berbagai makanan atau kue, kemudian mempelai Laki-laki setelahnya membalas lamaran tersebut dengan mendatangi kediaman mempelai Perempuan atau istilahnya memastikan hari dan tanggal acara pernikahan,  dalam budaya ganjuran yang ada di kota Lamongan ini. Meskipun budaya ganjuran tersebut mulai memudar tetapi masih banyak masyarakat yang masih melestarikan budaya local kabupaten Lamongan tersebut demi melestarikan budaya leluhur yang penuh dengan nilai yang dapat mempersatukan masyarakat. 

BUDAYA GANJURAN LAMONGAN YANG IDENTIK DENGAN WANITA YANG MELAMAR LAKI-LAKI

BUDAYA GANJURAN LAMONGAN YANG IDENTIK DENGAN WANITA YANG MELAMAR LAKI-LAKI Kebudayaan adalah sebuah tradisi atau kebiasaan yang diturunkan s...